Home > Education > Berdo’alah Hanya Pada Allah Niscaya Akan Allah Kabulkan

Berdo’alah Hanya Pada Allah Niscaya Akan Allah Kabulkan

Added: (Fri Sep 08 2017)

Pressbox (Press Release) - Bismillah, para pembaca rahimakumullah, do’a adalah salah satu ibadah yang setidaknya mudah dilakukan dan adalah senjata kaum muslimin dalam status apapun. Do’a yang terlihat kecil ternyata merupakan sesuatu



Bismillah, para pembaca rahimakumullah, do’a adalah salah satu ibadah yang paling gampang dilakukan beserta merupakan senjata golongan muslimin dalam situasi apapun. Do’a yang terlihat kecil ternyata adalah sebuah yang sangat besar. Atas do’a sesuatu yang menurut anggapan kita tidak bisajadi dapat sebagai mungkin menurut kehendak Allah subhanahuwata’ala, begitu pula melainkan. Sebelum kita mengimplementasikan do’a itu sendiri dalam semua situasi lalu kondisi, mari kita perhatikan beberapa uraian dari do’a tersebut.

Macam-Macam Do’a

Do’a Ibadah

Do’a ibadah merupakan memohon pahala dengan menyumbang shalih. Seperti mengucap dua ayat syahadat beserta melaksanakan tuntunan-tuntunan dua wacana syahadat tersebut, shalat, puasa, zakat, haji, memotong sembelihan dan bernadzar karna Allah. Di antara ibadah yang disebut ini terlihat yang tergolong do’a dengan perkataan beserta perbuatan sesuai shalat. Barangsiapa pernah melaksanakan ibadah ini lalu ibadah lainnya, maka berfaedah ia pernah berdo’a kepada Allah beserta memohon ampunan-Nya dengan perbuatannya itu.

Kesimpulannya, ia beribadah pada Allah karena mengharap ganjaran dan gelisah akan azabNya. Tipe do’a seperti ini tak boleh diarahkan untuk takhanya Allah. Barangsiapa yang melaksanakan sebagian dari ibadah ini untuk selain Allah, betul ia pernah menjadi kafir, yaitu sudah keluar dari agama Allah lalu termasuk golongan yang diketahui dalam FirmanNya,

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, mesti akan Kuperkenankan bagimu. Aktual orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam status hina dina“. (QS. Ghafir: 60)

Dan firman Allah,

“Katakanlah: Real sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku cumalah untuk Allah, Rabb sarwa alam. Tiada kawan bagiNya; dan begitu itulah yang diperintahkan kepadaku dan saya adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)“. (QS. Al-An’am: 162-163)

(Lirik Fath Al-Majid, hal. 180; Al-Qaul Al-Mufid ‘ala Pestaka At-Tauhid, Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, I/117; Fatawa Ibn ‘Utsaimin, 6/52),

Do’a Permohonan

Do’a petisi adalah do’a buat memohon sebuah yang bermanfaat, ialah yang memberi guna bagi pemohon, maupun yang menghindarkan dari bahaya, alias meminta hajat-hajat.

Do’a permintaan memiliki uraian sebagai selanjutnya:

Jika aplikasi ini terjadi dari seseorang hamba pada hamba yang lain, yang lagi hidup, mampu, beserta ada di hadapannya, maka hal ini tak termasuk kesyirikan. Seperti, “Berilah saya air minum”, atau, “Wahai Fulan, berilah saya makanan”, atau yang semisal dengan itu, maka tidak menjadi masalah. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa meminta (kepada kalian) dengan (menyebutkan Nama) Allah, sehingga berilah ia, lalu barangsiapa memohon perlindungan (pada kalian) oleh (menyebut Nama) Allah, maka berikanlah asilum kepadanya, dan sembarangorang yang mengundang anda (untuk mengunjungi walimah dan lain-lain -pen) maka penuhilah, lalu barangsiapa melakukan baik kepadamu, sehingga hendaklah kalian balas, seandainya tidak ada yang kalian miliki buat mebalasnya, maka do’akanlah dia sehingga kamu merasa kalau kamu suah membalas kebaikannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 1672; An-Nasa’i, 5/82; Ahmad dalam Al-Musnad, 2/68 dan 99. Amati At-Ta’liq Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, Syaikh bin Baz, situasi. 91 dan 245)

Berdo’a kepada makhluk serta meminta darinya sebuah yang tidak sanggup dilakukan oleh takhanya Allah, maka situasi ini menjadikan orang tersebut musyrik dan perbegu, baik yang diminta itu sedang hidup ataupun sudah mati, berada di hadapannya maupun tidak di hadapannya, serupa perkataan, “Wahai kyai Fulan, sembuhkan penyakit saya, kembalikan barang aku yang hilang, panjangkan umur saya, kasih saya anak, serta lain-lain”. Semua lisan itu merupakan kekafiran yang sangat besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.
Allah bertutur,

“Dan jika Allah membebankan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak terdapat yang menghilangkannya melainkan Dirinya sendiri. beserta jika Dirinya mendatangkan kebaikan kepadamu, sehingga Dia Maha Daya atas tiap-tiap sesuatu”. (QS. Al-An’am: 17)

Allah bersabda,

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak mengasih manfaat dan tidak (pun) memberi mudharat kepadamu tidakcuma Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, alkisah sesungguhnya anda kalau semacamitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menibankan sesuatu kemudharatan kepadamu, lalu tidak terdapat yang dapat menghilangkannya eksepsi Dia. Beserta jika Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Beliau memberikan kebaikan itu terhadap siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus: 106-107)

Allah juga bertutur,

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu dahsyat selain Allah itu ialah makhluk (yang payah) yang serupa pula dengan anda. Maka serulah berhala-berhala itu kemudian biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika anda memang banyakorang yang benar”. (QS. Al-A’raf: 194)

Allah juga berkata,

“Dan berhala-berhala yang kamu hebat selain Allah tidaklah mampu menolongmu, bahkan enggak dapat mengakomodasimendukung dirinya sendiri”. (QS. Al-A’raf: 197)

Allah juga berfirman,

“Dan di antara manusia terdapat orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jikalau ia mendapatkan kebajikan, tetaplah ia dalam situasi itu, dan jikalau ia ditimpa oleh sebuah bencana, berbaliklah beliau ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di alambaka. Hal yang begitu itu adalah kemudaratan yang nyata. Dia menyeru takhanya Allah, sesuatu yang tak dapat memberi mudharat dan tak (pula) mengasih manfaat kepadanya. Keadaan yang demikian itu yaitu kesesatan yang jauh. Beliau menyeru sesuatu yang sebenarnya mudharatnya lebih dekat dari manfaatnya. Aktual yang diserunya itu adalah sejahat-jahat kawan”. (QS. Al-Hajj: 11-13)

Lalu setiap orang yang mendesak keselamatan kepada selain Allah, alias berdo’a kepada selain Allah dengan struktur ibadah atau cukup permohonan saja, sedangkan permohonan itu tak dapat dijalani oleh selain Allah, alkisah orang tersebut musyrik beserta murtad.

Allah berkata,

“Hai manusia, sudah dibuat perbandingan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya seluruh yang kamu asyik selain Allah samasekali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Serta jika laler itu merampas suatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya lagi dari lalat itu. Amat lemahlah yang memuliakan dan amat payah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak memahami Allah dengan sebenar-benarnya. Nyata Allah benar-benar Maha Tangguh lagi Maha Perkasa”. ( QS. Al-Hajj: 73-74)

Allah juga bersabda,

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung takhanya Allah adalah sesuai laba-laba yang membuat rumah. Beserta sesungguhnya rumah yang paling lemah merupakan rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah mengenal apa saja yang mereka seru selain Allah, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Cermat. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Ana buat buat manusia; beserta tiada yang memahaminya hanya orang-orang yang berilmu”. (QS. Al-Ankabut: 41-43)

Allah pula berfirman,

“Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tiada memiliki (gigi) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit lalu bumi lalu sekali-kali tidak ada di antara mereka yang jadi pembantu bagi-Nya. Dan Tiadalah berguna syafa’at di arah Allah melainkan buat orang yang telah diizinkan-Nya mendapatkan syafa’at itu, sehingga apabila sudah dihilangkan ketakutan dari batin mereka, mereka berkata “Apakah yang sudah difirmankan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: (perkataan) yang benar”, dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Saba`: 22-23)

Allah juga berfirman,

“Dia menyisipkan malam ke dalam siang dan menyisipkan siang ke dalam malam dan meringkukkan matahari lalu bulan, masing-masing berjalan menurut masa yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan, dan orang-orang yang kamu dahsyat (sembah) tidakcuma Allah tiada ada apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu meruah mereka, mereka tiada mengindahkan seruanmu; dan jika mereka mendengar, mereka tiada dapat melepaskan permintaanmu. dan di hari kiamat mereka akan memungkiri kemusyirikanmu dan tak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui”. (QS. Fathir: 13-14)

Allah juga bertutur,

“Dan siapakah yang lebih sesat ketimbang orang yang menyembah sembahan-sembahan tidakcuma Allah yang tiada sanggup memperkenankan (do’a) nya capai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka? Dan jika manusia digabungkan (pada hari kiamat) puguh sembahan-sembahan itu menjadi kompetitor mereka dan memungkari pemujaan-pemujaan mereka”. (QS. Al-Ahqaf: 5-6)

Dan tiap orang yang memohon keselamatan kepada selain Allah, atau berdo’a terhadap selain Allah dengan bentuk ibadah alias hanya permintaan saja, sedangkan permintaan itu tidak terlihat yang dapat mengabulkannya takhanya Allah, maka orang itu musyrik dan murtad.

Allah bersabda,

“Sesungguhnya telah kafirlah beberapaorang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, Sebaliknya Al Masih (individual) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (benda dengan) Allah, alkisah pasti Allah memantang kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah tampak bagi beberapaorang zalim itu satuorang penolongpun”. (QS. Al-Ma’idah: 72)

Allah juga berkata,

“Sesungguhnya Allah tidak memaafkan dosa mempersekutukan (sesuatu) bersama Dia, lalu Dia memaafkan dosa yang selain syirik untuk siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) oleh Allah, maka real ia pernah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa`: 116)

Allah pula berfirman,

“Maka janganlah kalian menyeru (mengagungkan) Tuhan yang lain di samping Allah, yang mendatangkan kamu termasuk orang-orang yang diazab”. (QS. Asy-Syu’ara: 213)

Allah juga bersabda,

“Dan Sesungguhnya pernah diwahyukan kepadamu dan terhadap (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang anda sembah beserta hendaklah anda termasuk orang-orang yang bersyukur“. (QS. Az-Zumar: 65-66)

Allah juga berfirman,

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia membagi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (QS. doa setelah salat duha -An’am: 88)



Perbedaan antara Istighatsah lalu Do’a

Istighatsah artinya minta bantuan buat diselamatkan, yaitu menghilangkan kesulitan. Sesuai bentuk sabda Al-Istinshar berarti memohonkemenangan, An-Nashr berguna kemenangan, dan Al-Isti’anah berfaedah meminta ulurantangan.

Adapun antagonisme antara istighatsah (memohon bantuan untuk diselamatkan) atas do’a, ialah kalau istighatsah itu permohonan biar diselamatkan dari kesempitan beserta duka hasrat, sedangkan do’a lebih lazim dari istighatsah, karena do’a mencakup permohonan agar diselamatkan dari kesempitan dan duka hasrat serta permintaan yang lainnya.

Jika do’a digandengkan dengan istighatsah (misalnya disebutkan dalam sebuah kalimat ‘doa serta istighatsah’), maka situasi ini merupakan bentuk penggandengan sesuatu yang lazim dengan sebuah yang khusus. Sehingga kaitan antara keduanya adalah antara sesusatu yang lazim dengan sesuatau yang eksklusif yang mutlak, yang berbaur dalam suatu barang, sedangkan do’a mempunyai pengertian tersendiri dari materi itu. Jadi, setiap istighatsah yaitu do’a, namun tiada setiap do’a ialah istighatsah

Do’a permohonan juga mengandung do’a ibadah. Do’a ibadah mengadatkan adanya do’a permohonan. Maksudnya ialah setiap orang yang menjalankan do’a permohonan berguna dia telah melakukan ibadah, lantaran do’a permohonan (persoalan) mengandung keinginan, permohonan, kehinaan diri dan ketundukan terhadap Allah, dan peristiwa tersebut (harapan dan lain-lain) termasuk arti ibadah. Dan tiap-tiap orang yang melakukan (do’a) ibadah lalu ibadah tersebut melazimkan adanya doa permasalahan (permohonan) lantaran setiap orang yang beribadah pasti mengharapkan pahala dari Allah, dan ambisi ini termasuk doa permasalahan (permohonan). Adapun kata-kata do’a yang terdapat di dalam Al-Qur’an, kadang bermakna do’a ibadah, sering-kali bermakna do’a aplikasi, dan sering-kali bermakna kedua-duanya serempak.

Demikian para pembaca rahimakumullah, semoga yang sedikit ini dapat berfungsi. Mari kamu perbanyak do’a niscaya Allah akan mendengar do’a-do’a anda. Wallahu a’lam bish-shawwab. Hanya Allah yang sanggup memberi taufik.

Submitted by:
Disclaimer: Pressbox disclaims any inaccuracies in the content contained in these releases. If you would like a release removed please send an email to remove@pressbox.co.uk together with the url of the release.