Home > Media > Kejadian Tahu Bulat Digoreng Dadakan

Kejadian Tahu Bulat Digoreng Dadakan

Added: (Fri Aug 11 2017)

Pressbox (Press Release) - Suara dari speaker atau cerat toa itu pasti tiada asing bahkan lagi hits akhir-akhir ini. cara membuat tahu bulat yang menjajakan tahu bulat digoreng dadakan mutunya lima ratus rupiah/biji. Alhasil, konsumen bisa menikmati tahu bulat yang hangat gurih-gurih enyoy karena fresh from the wajan.

Biasanya di dalam mobil tahu bulat yang blusukan di komplek perumahan maupun perkampungan berisi dua atau tiga orang laki-laki. Di tempat kemudi tampak sopir yang merangkap jadi pakar halo-halo. Kadang terdapat juru kabar sendiri di sisi pak penyetir yang sedang beroperasi mengendarai mobil agar pelan jalannya (Lha apabila ngebut kasihan para pemakai harus lari-lari mengejarnya).



Di kolam belakang, ada satu atau dua orang lelaki remaja maupun dewasa baru yang siap menyuguhkan pembeli. Satu orang sibuk menggoreng dan satu orang lagi menjadi bendaharawan. Kadang pakar goreng mendobel menjadi kasir. Di bawah atap terpal, pramusaji tahu bulat berpeluh keringat. Mahfum ia duduk dekat wajan besar mengandung minyak goreng panas. Jadi bila ada tetes keringat masuk ke wajan itu bisa menambah gurih rasa tahu bulat (udah, nggak perlu dipikirin).

Jajanan tahu bulat sebenarnya telah lama kamu jumpai di gerobak pinggir-pinggir jalan. Namun presensi mobil tahu bulat keliling membuat jajanan ini jadi booming dan fenomenal terpenting di wilayah Jawa Barat. Backsound yang seakan menjadi prosedur tetap (protap) menjadi ciri eksklusif unik pada bidangusaha tahu bulat keliling ini. Kreator teks backsound itu sepertinya layak mendapat royalti.

Teks halo-halo itu pertama kali aku dengan di desa mertua di Banjar, Ciamis, sekeliling dua tahun lalu. Tidak dinyana, halo-halo itu sekarang marak terdengar di jalanan dekat rumah aku di wilayah Depok, Jawa Barat. E lhadalah, cepat sekali ekspansinya. Sebentar lagi mungkin akan terlihat FTV di televisi nasional berjudul: Hallooouw! Pacarku Tukang Tahu Bulat Digoreng Dadakan (yah yang digoreng tahunya apa tukangnya?)

Sebenarnya wacana itu sangat simpel, tak terdapat kata-kata nyeleneh. Mungkin karena diucap berulang-ulang jadi likat dalam ingatan. Konon semacamitu teori marketing satubuah produk. Ketika produser kuliner memeras otak mencari tagline yang menggelikan, pencipta hymne tahu bulat menapis kembali ke selera asal: kesederhanaan teks.

Ketika pebisnis kuliner membubuhkan merek aneh-aneh, keinggris-inggrisan hingga nama-nama berbau mistis/hantu-hatuan, tahu bulat muncul apa adanya dan yakin diri sebagai tahu bulat saja. Mobil yang ngider blusukan pedalaman pun hadir apa adanya. Hanya goresan sekedarnya di papan triplek, tanpa perlengkapan desain visual peres warna yang memanjakan mata, ala pedati kuliner waralaba.

Kekuatan bacaan pada backsound tahu bulat keliling sedemikianitu kuat menyatu dalam ingatan. Tak bingung jika di media sosial banyak beredar meme seputar tahu bulat digoreng dadakan. Tulisan itu juga mengulik dayacipta lain hingga lahir lagu bertema sebangun di Youtube. Mulai dari lagu versi paduan, reggae hingga lagu Sunda, "Tahu bulat digoreng dadakan, lima ratusan, dina mobil. Maknyuss wenak gurih-gurih enyoy."

Saya kira, perumus tulisan halo-halo tahu bulat keliling termasuk orang yang genius. Sebenarnya jika dikaji sebagai mendalam (nggaya sangat ya), ayat sederhana itu sebenarnya mengandung kekuatan makna. Bisajadi siapa dia beserta di mana tinggalnya, penulis wacana itu saya taksir sangat tahu akan situasi sosial politik Indonesia. Benarkah?

Belajar Hidup dari Tahu Bulat

Demi merayu mata klien, tahu yang biasanya kotak atau segitiga juga membulatkan doronganhati. Mungkin begitu filosofi awal dari tahu bulat (ngarang betul). Namun, tantangan tahu bulat ialah bagaimana melindungi kebulatan bentuknya. Sepertiapa biar yang bulat tetap bulat. Begitu juga tantangan umat manusia ketika mesti mempertahankan integritas tekadnya.

Ketika tahu bulat baru diangkat dari minyak mendidih di wajan, kebulatannya tentu terlihat sempurna. Di mata pembeli, tahu bulat yang panas kinyis-kinyis, klomoh (berlumuran) minyak menumis persis seperti bidadari maupun gadis desa yang selesai mandi di perigi atau balong.

Namun setelah tahu bulat di angkat dari wajan, ada saja tahu yang ceduk atau ceduk. Mungkin karna masuk angin. Begitu pun dengan kehidupan ini. Membludak orang atau pemangku kepentingan yang semangat saat menggodok program alias perencanaan, namun alum saat pelaksanaan. Koalisi yang digadang-gadang utuh bulat pun bisa langsung luput bentuk lebih-lebih bubar di tengah jalan. Sedemikianitu juga bersama semangat anda yang awalnya bulat akantetapi bisa gembos karena meluap rintangan.

Konon, ada separuh resep agar tahu bulat tetap bulat. Di kali menggoreng, apinya jangan terlalu besar karena sanggup gosong. Hawa minyak goreng pula harus dijaga biar kondusif. Bila terlalu panas alkisah tahu bulat bisa meletus. Bala kan. Lama durasi penggorengan pula harus diperhitungkan biar tahu bulat matang sempurna. Jika tiada, tahu bulat akan susut kembali sehabis diangkat dari penggorengan.

Di daur keriuhan medsos beserta masih adanya kubu-kubuan (sebenarnya pilpres dah kelar yak), segala hal bisa seperti tahu bulat edaran: digoreng dadakan. Apapun yang dilakukan pemimpinnegara dan pun mantan presiden sampai jajaran kabinetnya ataupun artis/tokoh masyarakat sanggup menjadi materi untuk digoreng selanjutnya di-share agar jadi isu hangat. Bisajadi oleh golongan pemuja-pemuji atau pembenca-pembenci. Kemudian terjadilah melayani pantun.

Tidaktahu dari dapur mana energi produktif yang menyala-nyala bak api kompor yang menghangatkan pantat kuali. Begitu terdapat sebuah perkara langsung, tangan-tangan yang menggoreng dadakan. Dalam sekejam eh sekejap muncul cuitan, meme atau link-link berita dari beragam tempat.

Walaupun panas serta resikonya mlocot (melepuh) lidah, tahu bulat memang enak dinikmati sesaat sehabis diangkat dari wajan. Sehingga segala gosip yang digoreng dadakan harus acap di-share, dengan adendum kalimat ajaib: Sebarkan! Benar salah itu kesibukan nanti. Jika berita itu salah, kan aku cuma nge-share.

Lalu kita pun menikmati keriuhan di alat sosial sambil kunyah tahu bulat digoreng dadakan di mobil anget-anget. Hallooouw!

Submitted by:
Disclaimer: Pressbox disclaims any inaccuracies in the content contained in these releases. If you would like a release removed please send an email to remove@pressbox.co.uk together with the url of the release.